Kementerian Perhubungan membantu pembayaran santunan CSC PT BSM kepada keluarga pelaut

Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Administrasi Umum Angkutan Laut Kementerian Perhubungan membantu PT dalam membayar santunan melalui Administrasi Umum Navigasi dan Kemaritiman. BSM Crew Service Center di Indonesia diperuntukkan bagi keluarga pelaut yang meninggal di kapal.

Direktur Navigasi dan Kelautan Hermanta mengungkapkan santunan kematian senilai US $ 215.000 diberikan kepada ahli waris keluarga pelaut almarhum dan dilakukan langsung oleh direktur PT. Akhmad Zubaidi dari BSM CSC Indonesia dihadiri perwakilan dari Biro Navigasi dan Kemaritiman, Ditjen Angkutan Laut dan perusahaan asuransi. Sebelumnya, perseroan juga membayar sisa gaji sebesar Rp33,67.400 dan biaya pemakaman Rp 12 juta. Kata Hermanta. -Hermanta menjelaskan bahwa almarhum Sugeng Rantono Prihady adalah seorang pelaut Indonesia yang direkrut dan ditempatkan oleh PT. Sejak 2009, BSM CSC Indonesia beroperasi. Sejak saat itu, almarhum bekerja di kapal yang dioperasikan oleh PT. BSM CSC dengan posisi Electrician atau Electronic Technology Officer (ETO).

Baca: Kementerian Perhubungan Selenggarakan Forum Puskoldalnas Bahas Penanganan Tumpahan Minyak Laut Protap

– “Pada 19 Juli 2020, Almarhum Ditugasi ke MT. Thaela Schulte Mengibarkan Bendera Singapura, dan Kapalnya Almarhum adalah kapal terakhir yang bekerja sebagai pelaut, “katanya. Dijelaskan, almarhum Sugeng meninggal dunia saat menjalankan tugasnya di kapal MT. Thalea Schulte meninggal dunia karena sakit.

Jadwalnya jam 11:00 tanggal 11 Agustus 2020. Almarhum melaporkan kepada Hashimoto bahwa dia sedang beristirahat di kamarnya karena nyeri dada dan sedikit lemas. –Lalu, di pagi hari, almarhum bekerja seperti biasa. Pada pukul 12:30 waktu makan siang, petugas jaga mengundang seorang anggota kru ke almarhum untuk memeriksa kondisinya dan mengundangnya untuk makan siang, tetapi almarhum ditemukan berbohong kepada Ahmed dan berkata: “Almarhum mungkin telah meninggal di kapal selama ibadah. Kapal sedang dalam perjalanan dari pelabuhan Ruwais menuju Romania, di laut. ”Bagi Ahmad, pihaknya semula berusaha menurunkan jenazah di pelabuhan terdekat, Djibouti Africa Port, namun karena keterbatasan waktu dan Djibouti tidak memiliki Indonesia Kantor perwakilan, rencana itu dibatalkan. Su Geng berada di Terusan Suez di Mesir saat itu, tapi Otoritas Pelabuhan Mesir menolak atau tidak mengizinkannya untuk membongkar jenazah, ”kata Ahmad.

Terkait hal itu, Hermanta menjelaskan tim PWNI Kementerian Luar Negeri dan KBRI Mesir berusaha membantu mendapatkan izin yang dibutuhkan untuk menurunkan jenazah, namun nyatanya Otoritas Pelabuhan Mesir menolak. Hermanta menjelaskan bahwa dengan bantuan KJRI Istanbul, jenazah Sugan Nantinya bisa dibongkar di pelabuhan Turki Istanbul, lalu diangkut ke Jakarta.

Baca: Untuk meningkatkan sumber daya manusia untuk menjamin keselamatan kapal dan fasilitas pelabuhan, Kemenhub memastikan 24 auditor kode ISPS-untuk itu, Herman Ta dan Ahmad menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada instansi terkait, khususnya atas kerjasama yang baik antara Kementerian Perdagangan dan Luar Negeri PNWI dan KJRI di Indonesia yang bekerja di Istanbul untuk membantu proses otorisasi dan mengawasi pemulangan jenazah almarhum .

“Seperti kita ketahui bersama, pandemi yang terjadi di dunia berdampak besar pada masalah perizinan dan transportasi, terutama dalam situasi darurat. Atas hal ini, saya sangat berterima kasih dan berterima kasih kepada instansi / kementerian terkait yang telah memastikan bahwa Hermanta Laut Indonesia selesai. (*)

Post a comment