Varietas Inpari menjadi tulang punggung petani Kabupaten Klaten

Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Mulai 6 Mei 2020, ratusan petani di Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah memanen padi dalam waktu bersamaan.

Mereka terbiasa menanam Inpari 32 dan Inpari 42 untuk mendapatkan benih yang berkualitas dengan bantuan Kementerian Pertanian (Kementerian Pertanian).

Widiyanti, Kepala Dinas Pertanian, Keamanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Claddon, mengatakan varietas Inpari merupakan benih berkualitas tinggi yang tahan hama dan penyakit serta tahan cuaca. Lebih penting lagi, Inpari juga sangat memuaskan, karena dalam tiga bulan terakhir Kabupaten Klaten mampu mengelola 19.386 hektar lahan, dengan perkiraan produksi beras sekitar 70.700 ton.

“Padahal, kebutuhan konsumsi beras tiga bulan di Kraden hanya 31.000 ton. Artinya, sisa beras yang disediakan Pemkab Kraden untuk Indonesia sekitar 39.000 ton. Ini tentu sangat mengagumkan. Mendorong, “katanya. -Dalam hal ini, Widiyanti menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kerja keras PUSTAKA (Pusat Diseminasi Perpustakaan dan Teknologi Pertanian) yang mengawasi perkembangan kegiatan pendamping, khususnya dalam penggunaan teknologi produksi padi. Kepala Pusat Perpustakaan dan Komunikasi Teknologi Pertanian Retno Sri Hartati Mulyandari mengaku siap mendampingi seluruh kegiatan pembangunan pertanian di dunia di Kabupaten Klaten.

“Kami juga siap membantu petani menyelesaikan masalah pertanian. Ketanah, terutama terkait penerapan teknologi baru di bidang ini.” Kata Retno melalui Ruang Buka Literasi Virtual (Oviral) Perpustakaan Kementerian Pertanian (Kementan). -Retno berharap dengan adanya teknologi baru ini dapat mendorong petani untuk berperan aktif dalam dunia usaha mandiri melalui penerapan teknologi.

“Kami berharap para petani akan terus bekerja keras agar wirausaha dapat berkembang dan meningkatkan pendapatannya secara inovatif dan mandiri, hingga dalam penerapan teknologi, produk sampingan dari produk utama ditransformasikan menjadi berbagai produk unggulan Produk sampingan dari nilai tambah, “katanya. Gunakan pupuk organik dari limbah produksi pertanian seperti jerami pertanian. “Ke depan mereka tidak akan mengandalkan pupuk bersubsidi. Begitu pula saya berharap ke depan mereka juga bisa mandiri memproduksi varietas padi yang berkualitas tinggi sehingga bisa digunakan untuk menanam benih,” ujarnya. -Gapoktan Presiden Desa Tumpukan, Suwarto menambahkan, petani akan melakukan penanaman benih secara bersamaan selama kurang lebih seminggu, dengan luas total 124 hektar.

Suwanto menyimpulkan: “ Saya harap tidak ada kendala dan hasilnya memuaskan. ”

Post a comment