SKPT Sebatik mengekspor 4,21 miliar rupiah ikan ke Malaysia

Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Pusat Kelautan dan Perikanan (SKPT) Sebatik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Bea Cukai Kabupaten Nunukan di Kalimantan Utara akan mengekspor ikan gelombang pertama ke Tawau, Malaysia, Rabu (3/3). Nilai ekspor mencapai 4,21 miliar rupee, termasuk bandeng dan ikan laut dalam.

Kegiatan ekspor pertama adalah Pemerintah Daerah Kakanwil, BKIPM Tarakan, PSDKP Tarakan dan Kabupaten Nunukan DJBC Kaltimtara. Dokumen pemberitahuan ekspor (PEB) yang diterbitkan oleh bea cukai dan pajak konsumsi melengkapi Surat Keterangan Asal (SKA) dan Sertifikat Kesehatan (HC) dari produk yang diekspor.

Menurut Koordinator SKPT Sebatik Iswadi Rachman, dokumen penyelesaian ekspor tersebut merupakan langkah pemerintah untuk menghindari kegiatan ekspor ilegal. Rekor tersebut juga menjadi pendukung peningkatan mata uang dan pendapatan asli daerah (PAD) hasil perikanan Kabupaten Nunukan.

“Kami terus mengingatkan industri perikanan untuk memperhatikan dokumen ekspor ini, karena prosesnya sangat sederhana. Ia mengatakan:“ Jika eksportir tidak bisa menunjukkan dokumen ekspor secara lengkap, maka akan diambil tindakan juga. -Dhian Kusumanto, Kepala Dinas Perdagangan Wilayah Nunukan menjelaskan, selama ini hasil tangkapan nelayan banyak dijual di pasar Nunukan atau Sebatik. Sebagian dijual di Tarakan atau Tanjung Sale, tapi sebagian besar hasil laut ada di Tawau, Malaysia. Menjual, harganya lebih menjanjikan.Karena nelayan biasanya menjual hasil tangkapannya langsung di pasar Tawau tanpa melalui pintu gerbang imigrasi resmi, hal itu melanggar undang-undang imigrasi. Nelayan dapat ditangkap oleh aparat keamanan Malaysia karena dianggap Dimasukkan secara ilegal, apalagi hal ini telah Sejak saat itu, menurutnya, sinergi dengan semua pihak terkait harus ditingkatkan untuk memastikan produk perikanan Indonesia tidak ilegal. Pasar luar negeri yang menjadi masalah.Selain itu, kegiatan ekspor awal juga dapat membuka jalan bagi pengusaha lain untuk ikut serta. .

Tidak hanya keutuhan dokumen, jaminan kualitas dan kualitas ikan juga menjadi komitmen KKP, sehingga hasil perikanan yang diekspor memiliki nilai tambah.Di Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Semasa Sakti Wahyu Trenggono, komitmen tersebut lebih lanjut diperkuat.

Sebelumnya, Menteri Trenggono menyatakan akan rutin memberikan saran kepada perusahaan hulu hilir untuk menjamin mutu dan mutu produk yang dihasilkan.Hal ini dilakukan agar ekspor produk perikanan Indonesia terus meningkat selama pandemi. .

“Penjaminan mutu ini sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar dunia terhadap produk perikanan Indonesia,” ungkapnya. KKP perikanan yang melimpah Pengembangan sumber daya daerah pinggiran Indonesia telah berhasil. SKPT Sebatik juga checkpoint, exit and entry point kapal ikan yang membawa hasil perikanan dari berbagai wilayah di Provinsi Kalimantan Utara (seperti Tarakan di Belau). Provinsi Kaliman Dan Utara termasuk dalam Kawasan Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPPNRI) kawasan 716, meliputi Laut Sulawesi dan Hamahera bagian utara Potensi kawasan ini mencapai 597.139 ton, termasuk jenis biota laut, termasuk kategori ikan pelagis kecil, ikan pelagis besar, ikan laut dalam, ikan karang, udang galah, lobster, kepiting, kepiting. dan cumi-cumi.

Post a comment