Jumlah perokok anak di Indonesia melonjak karena iklan rokok diperbolehkan menyebar

Kesehatan

Reporter Tribunnews.com Reynas Abdila melaporkan-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Yayasan Lentera Anak mengatakan, iklan rokok sangat mempengaruhi prevalensi perokok anak di Indonesia. Pemerintah melarang penayangan iklan rokok di semua media promosi. Dalam forum diskusi virtual Rista, Rabu (7/10/2020), Rista mengatakan: “Jumlah perokok terus meningkat signifikan karena masih ada iklan rokok di mana-mana.” – Ironisnya, iklan rokok terpampang jelas di booth yang tidak jauh dari sekolah. atau tempat pertemuan anak-anak. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Youth Tobacco pada tahun 2019, diketahui bahwa 65,2% siswa melihat iklan rokok di toko, 60,9% siswa melihat iklan rokok di luar ruangan, dan 56,8% siswa melihat iklan rokok di TV., 36,2% melihat di internet.

Baca: Pengusaha Dukung Pemerintah Kurangi Perokok

Survei juga menemukan bahwa 60,6% mahasiswa tidak dicegah untuk membeli rokok. Minimnya pengawasan oleh penjual rokok membuat anak lebih mudah memperoleh tembakau.

Meski demikian, beberapa kota / daerah sepertinya sudah melarang iklan dan promosi rokok, khususnya DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, Depok, Bukit Tinggi, Payakumbuh, Karang Asem, Gianyar, Klungkung, Jembrana, Banggai Tunggu.

Baca: Survei Yayasan ALIT: Rokok Murah Jadi Akar Makin Banyak Anak Perokok

Walikota Bogor Bima Arya Tegaskan Tidak Ada Iklan Tembakau Dalam Situasi, Turunkan Angka Perokok Anak . “Kota Bogor sudah jelas pengawasan tembakau. Pada dasarnya ada beberapa faktor yang menentukan apakah kita bisa menyelaraskan dengan pengawasan tembakau. Yang perlu dilakukan secara politis adalah pengurusnya kurang antusias, tapi belum mendapat dukungan dewan. Begitu pula sebaliknya “Bima Arya” Bagi pemerintah daerah sangat penting untuk menentukan kontribusi reklame rokok terhadap seluruh penerimaan pajak daerah. ”Di Bogor, penerimaan pajak iklan hanya menyumbang 1,8% dari seluruh penerimaan pajak di Kota Bogor. 2,1%, jadi masih banyak yang dikatakan Bima Arya: “Potensi pajak di luar reklame rokok bisa dioptimalkan.”

Post a comment